Crayon Pensil

Ramadhan Pertama Fahmi
23 Oktober 2010 | 15.58 | 0 comments
“Mi, bangun ! Katanya mau puasa !” seru Bunda. “Iya Bunda !” seru Fahmi sambil membuka pintu kamarnya. Kemudian Fahmi melihat jam di kamarnya. Sudah jam 4. “Ayo Mi, sahur dulu ! Biar puasanya kuat !” kata Ayah. “Iya, Yah !” jawab Fahmi bersemangat. Ya, tahun ini adalah tahun pertama Fahmi berpuasa. Sebenarnya Fahmi masih berumur 5 tahun. Tapi karena Fahmi ingin berpuasa jadi Ayah dan Bunda juga setuju. “Alhamdulillah !” seru Fahmi setelah mengabiskan makanannya.  Ketika adzan shubuh sudah dikumandangkan, Fahmi shalat Shubuh bersama Ayah di Masjid. Sepulang dari Masjid,  Fahmi membaca Al Qur’an bersama Bundanya. “Shadaqallahul adzim “ ucap Fahmi setelah selesai membaca Al Qur’an. Setelah selesai membaca Al Qur’an, Fahmi mempersiapkan diri untuk bersekolah. Ketika jam 7, Fahmi diantar Ayah ke sekolah menaiki motor.
“Anak-anak, siapa yang berpuasa hari ini ?” tanya Ibu guru. “Saya, Bu !” seru Fahmi bersemangat. “Saya juga, Bu !” seru yang lainnya. “Kalian semua memang anak-anak yang soleh dan solehah ! “ puji Ibu guru. Sepulang sekolah, Fahmi menemui Bundanya. “Bunda, Kapan sih buka puasanya ? Fahmi udah laper nih !” tanya Fahmi. “Jam 6, sayang ! Lebih baik Fahmi bermain bersama teman-teman, mengaji, belajar, tidur juga boleh !” saran Bunda. “Hmmm…. Fahmi maunya bantuin Bunda memasak ! Boleh kan, Bunda ?” tanya Fahmi. “Boleh kok “ jawab Bunda sambil tersenyum. Kemudian Fahmi membantu Bundanya memasak untuk berbuka puasa.
“Bunda, Fahmi bolek ngak bantu Bunda mengiris cabai ?” tanya Fahmi. “Jangan sayang ! Lebih baik kamu mencuci piring !” saran Bunda. Kemudian Fahmi mencuci piring. “Fahmi, bisa bantu Bunda ngak ? Tolong antarkan puding ke Masjid !” tanya Bunda. “Mana Bunda? Sekarang ? ” tanya Fahmi bingung. “Nanti sore, Sayang ! Lebih baik sekarang kamu tidur siang dulu, ya !” saran Bunda. Fahmi menuruti saran Bunda kemudian Ia tertidur di kamarnya.
“Fahmi, bangun nak !  Sudah jam 4 ! “ panggil Bunda. “Oh iya, Bunda ! Fahmi belum shalat Ashar “ kata Fahmi. Setelah Fahmi shalat Ashar, Fahmi mandi sore dan mengantarkan puding ke Masjid. “Assalamu’alaikum, Pak !” Fahmi mengucapkan salam. “Oh, Wa’alaikumsalam !” jawab seorang lelaki. “Ini, Pak ! Puding untuk Masjid !” Fahmi menyerahkan puding tersebut. “Oh, taruh saja di meja di sana !” lelaki itu menunjukkan sebuah meja di dekat pintu masuk Masjid. Fahmi segera menaruh puding tersebut di meja yang ditunjukkan oleh lelaki yang tadi.
Kemudian Ia melihat ada segerombolan anak sedang duduk di bawah pohon. Mereka sedang apa ya ? , tanya Fahmi dalam hati. Karena penasaran, Fahmi mendatangi segerombolan anak tersebut. “Hai, kalian sedang apa ? Aku boleh ikut ngak ?” tanya Fahmi. “Kami sedang makan buah apel. Kamu mau ?” tawar seorang anak yang memakai baju hijau. “Tapi, kata Bunda aku ngak boleh makan sebelum jam 6 sore. Soalnya aku lagi puasa !” kata Fahmi ragu-ragu. “Udah ! Dimakan aja ! Bunda kamu juga ngak bakalan tahu kok !” kata seorang anak yang paling pendek. Hmmm…. Boleh juga ! Tapi kata Bunda walaupun ngak ada orang yang tahu perbuatanku, Allah akan tahu. Terus Allah marah deh sama aku ! Lebih baik ngak usah ! , pikir Fahmi. “Hmmm…. Teman-teman, tapi kata Bundaku walaupun semua orang ngak tahu perbuatan kita, Allah akan tahu. Karena Allah Maha Melihat” ujar Fahmi panjang lebar.  Kemudian segerombolan anak tersebut terdiam. “Hmm… Teman-teman, Aku takut Allah marah ! Lebih baik ngak usah dimakan apelnya ! Daripada Allah marah sama kita !” ujar seorang anak yang paling tua. “ Iya… Lebih baik apelnya buat buka puasa aja !” saran seorang anak. “SETUJU…!!!”  seru semua anak termasuk Fahmi.
 Kemudian Fahmi pulang ke rumah dan melihat Bunda sedang berada di teras sedang mencari seseorang. “Assalamu’alaikum, Bunda !” Fahmi mengucapkan salam kepada Bundanya. “Wa’alaikumsalam. Kok kamu pulangnya lama sekali ? Habis bermain ya?” tanya Bunda lembut sambil mengusap wajah Fahmi. “Tadi Fahmi bertemu sama segerombolan anak yang mau makan apel. Terus Fahmi bilang aja kalau gak boleh makan kalau lagi puasa. Eh, kemudian mereka ngak jadi deh makan apelnya. Malah dibawa pulang untuk berbuka puasa. Ini, Bunda ! Fahmi diberi 3 apel sama mereka. Satu untuk Fahmi, satu untuk Bunda, dan satu lagi untuk Ayah !”cerita Fahmi bersemangat. “Fahmi, Bunda bangga deh punya anak kayak Fahmi !” kata Bunda sambil menangis terharu mendengar cerita Fahmi. “Lho kok Bunda menangis ? Fahmi salah ya, Bunda ?” Fahmi bertanya. “Enggak, Sayang !” jawab Bunda lembut kemudian memeluk Fahmi dengan erat sekali.
Adzan Magrib sudah dikumandangkan, Fahmi beserta kedua orang tuanya sudah berbuka puasa. Kemudian Fahmi shalat tarawih bersama Ayah dan Bundanya di Masjid. Setelah itu mereka pulang ke rumah dan tidur.

Tak terasa sudah 26 hari Fahmi berpuasa. Namun pagi hari, Bunda merasa sakit. Akhirnya Bunda dibawa ke rumah sakit. Ternyata Bunda sedang hamil 8 bulan. Jadi Bunda harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Fahmi menjadi merasa kesepian, karena tak ada Bunda di rumah. “Duh… Bunda kapan pulangnya, Yah ?” tanya Fahmi suatu ketika. “Do’akan Bunda supaya Bunda cepat sembuh  ya, Fahmi “jawab Ayah.
Ketika malam takbiran, Fahmi menjenguk Bundanya di rumah sakit. “Bunda sakit apa ? Kok bisa masuk ke rumah sakit ?” tanya Fahmi polos. “Bunda sedang mengandung adik kamu, Fahmi “ jawab Bunda. “AAAA….!!!” tiba-tiba Bunda menjerit kesakitan. “Bunda kenapa ?” tanya Fahmi panik. “Ayah, Bunda kenapa ?” tanya Fahmi panik. “Suster, tolong ! Istri saya mau melahirkan !” seru Ayah panik. Kemudian Bunda dibawa ke ruang persalinan untuk melahirkan adiknya Fahmi. Setelah satu jam, akhirnya adik Fahmi lahir. Tetapi kondisi Bunda sedang kritis. Dokter berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Bunda, tetapi Allah sudah berkehendak. “Bunda…!!!! Bunda bangun !!! Bunda katanya besok kita mau shalat Ied bareng-bareng sama Fahmi, Ayah, sama dede bayi !!!! Bunda….!!!!” Fahmi menjerit menangis. Kemudian Fahmi melihat adiknya. “Ayah, dede bayinya boleh ngak aku kasih nama Farhan ?” tanya Fahmi setelah tangisnya reda. Ayah hanya mengganguk. “Dede Farhan, kamu lucu deh !!!” kata Fahmi sambil tersenyum.  Allahu akbar ! Allahu akbar ! Allahu akbar ! Lailaha ilallahu allahu akbar ! Allahu akbar wa lilla ilham !

Label:


Older Post | Newer Post
Disclaimer

Assalamu'alaikum :)
History